Malam Asmara di Lapangan Puputan

"Monumen Puputan menjelang malam"

Lapangan Puputan–dimana berdiri sebuah monumen yang menjadi simbol pertempuran heroik antara Rakyat Bali dengan Pasukan Belanda*1 pada tahun 1906–memiliki beragam fasilitas olahraga. Masyarakat sekitar kota Denpasar biasanya menggunakan fasilitas ini untuk jogging, meditasi, yoga, bermain sepak bola, bermain voli dan berlatih pencak silat. Pedagang pun tidak mau kehilangan kesempatan, walaupun harus bermain kucing-kucingan dengan aparat, mereka turut meramaikan suasana lapang dengan menjajakan makanan dan minuman. Di saat malam, ketika semua masyarakat pulang ke rumah untuk melepas lelah, lapangan renon tidak pernah sepi pengunjung, muda-mudi yang sedang dimadu kasih kerap kali mengunjungi tempat ini.

Gelapnya malam dan minimnya penerangan tidak menjadi penghalang bagi sebagian muda-mudi  Kota Denpasar untuk tetap melaksanakan ‘aktivitas’ di Lapangan Puputan. Setiap harinya mereka datang menggunakan motor pribadi. Saling berboncengan dan berpelukan tentunya. Pakaian pemudinya sudah tidak tanggung-tanggung, minimalis sekali. Puncak keramaian ‘aktivitas’ mereka bisanya pada malam minggu. Lapangan gelap dan sepi itu seolah menjadi pusat perbelanjaan jika kita melihat jumlah motor yang di parkir.

Tentu kita harus ber-husnudzan*2 melihat jumlah motor yang diparkirkan sebanyak itu. Tapi apa salahnya melakukan sedikit pengamatan mengenai ‘aktivitas’ mereka di Lapangan tersebut. Saya dengan rasa keingintahuan mencoba memasuki Lapangan itu, gelap memang, tapi beruntung masih ada satu dua penerang jalan yang membantu penglihatan saya. Tepat di depan saya, ada sepasang remaja yang berpegangan tangan. Saya pun melambatkan langkah saya dan mengamati pergerakan mereka. Beberapa menit setelah mencapai tengah lapang, mereka keluar dari jalan utama dan masuk ke lapang bola. Di situ ada banyak sekali pohon perdu. Ternyata mereka duduk di bawah pohon itu dan saling ‘berinteraksi*3’ dengan bahagianya. Karena takut disangka mengganggu privasi orang, saya pun melanjutkan perjalanan saya menuju pintu keluar.

Cukup  jauh memang menuju pintu keluar, dan saya mendapat banyak objek pengamatan selama perjalanan itu. Ternyata bukan mereka saja pasangan yang berada di pohon itu. Pasangan lain di pohon yang berbeda pun melakukan hal yang sama. Entah apa yang mereka lakukan, yang pasti mereka berpasangan saling ‘berinteraksi’ di kegelapan malam. Sesekali mereka keluar ke tempat terang untuk membeli jagung bakar.

***

Bukan maksud saya mencampuri urusan kota orang, tetapi ini masalah pantas-tidak pantas, baik-buruk, dan benar-salah. Jika melihat dari kaca mata agama tentu sulit untuk menemukan titik temunya*4. Oleh karena itu saya akan melihat hal ini dari segi pantas-tidak pantas.

Memang merupakan hak asasi manusia untuk melakukan kegiatan apapun asal tidak mengganggu hak asasi manusia lainnya. Dengan pemahaman ini saya rasa semua orang akan menjadikannya dalih ketika melakukan suatu perbuatan.

Berkaca dengan hewan menurut saya adalah hal yang sederhama untuk mengukur pantas-tidak pantas-nya sesuatu. Hewan yang bersifat instinktif tentu hanya menuruti apa yang mereka mau tanpa harus dipikirkan terlebih dahulu. Hidup mereka hanya di penuhi pemenuhan nafsu yang berkelanjutan tanpa ada perbaikan kualitas hidup yang lebih baik. Demi makan seekor kucing rela mengais makanan di tempat sampah bahkan mencuri, seekor macan akan membunuh pejantan yang mendekati betinanya, seekor beruang akan saling membunuh untuk mendapatkan pujaan hatinya, sepasang anjing akan melakukan hubungan intim di pinggir jalan, taman, hutan, dan di manapun mereka mau. Begitulah hewan, melakukan hal yang sama dari hari ke hari yang sifatnya sekedar memenuhi nafsu dirinya.

Pantas-tidak pantas saya rasa relatif, tergantung dari mana orang memandang, tetapi jika kita melihat diri kita sebagai manusia– yang dikarunia akal dan nurani–dengan hewan– yang instikntif–tentulah jelas dimana letak pantas-tidak pantas itu. Manusia hendaknya menjadi manusia tanpa pernah bersifat hewan, hewan hendaknya menjadi hewan tanpa hendak bersifat manusia. Itulah hukum alam.

Denpasar, 23April 2010

*1 pertempuran ini dikenal dengan nama Puputan, yaitu pertempuran sampai titik darah penghabisan.

*2 Husnudzan adalah bahasa arab yang artinya berbaik sangka

*3 saya gunakan kata ‘berinteraksi’ karena saya tidak melihat jelas apa yang mereka lakukan, sebatas penglihatan saya mereka pada umunya saling berdempetan dan berangkulan

*4 ada agama yang menyatakan bahwa hal semacam itu haram, dan haram itu dosa (dalam agama Islam). Mungkin ada agama yang memperbolehkan, saya kurang tahu.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: