Saya 18 Tahun dan Saya Masih Hidup

merenung

Sebenarnya judul di atas tidak ada hubungannya dengan kondisi kesehatan saya saat ini. Saya ketika menulis hal ini sedang berada dalam kondisi yang sehat. Bukan juga judul diatas berhubungan dengan bencana alam yang menimpa diri saya beberapa waktu lalu karena itu belum terjadi pada diri saya, dan –sekali lagi saya katakan- saya dalam keadaan sehat ketika menulis hal ini.

Saya 18 tahun, berarti saya telah hidup selama ini dan masih hidup sampai saya menulis hal ini. Memang kehidupan tidak ada yang bisa menebak kedepannya. Entah itu ramalan astrologi, ramalan shio dan ramalan primbon. Semua tidaklah bisa menebak akan jadi apa kita kedepannya. Akankah menjadi sesosok mayat yang tewas dalam kemaksiatan atau sesosok mayat yang tewas dalam perjuangan membela yang hak. Semua hanyalah misteri yang tidak bisa diungkap, tapi kita bisa memilihnya.

Saya 18 tahun, berarti ada rentetan peristiwa yang telah saya hadapi sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang ini. Entah itu peristiwa suka maupun duka. Semua pasti telah saya hadapi, karena memang suka dan duka tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Ada hidup maka ada pula mereka.

Masa kecil adalah hal terindah bagi sebagian orang dan hal terburuk bagi sebagian lainnya. Dan telah saya hadapi masa-masa ini. Masa penuh kebahagiaan rohani dan hartawi. Sosok kecil mungil tanpa dosa yang menjalankan hidupnya dengan arahan orang tua yang penuh kasih, tapi tanpa mempedulikan keadaan orang tuanya sendiri. Entah orang tua sedang dalam keadaan sedih maupun gembira. Yang saya tahu bahwa kebutuhan saya tercukupi dan saya dapat bermain.

“Kehidupan itu seperti roda”, kata orang tua saya, “Kadang diatas, kadang dibawah”, sambungnya. Saya pun membantah, “Bagaimana jika roda tersebut diganjal, jadi kehidupan akan tetap diatas”. Disaat itu saya membantah tapi realita berpihak pada orang tua saya. Bahwa kehidupan kadang di atas kadang dibawah. Masa kecil penuh bahagia hanyalah masa menunggu masa lain penuh derita. Kita gembira berarti kita sedang menunggu derita, kita menderita berarti kita sedang menunggu gembira. Itulah yang terjadi. Itulah masa saya, kegembiraan itu semua berbalik menjadi derita bagi seorang bocah kecil yang belum paham akan kerasnya dunia. Semua terjadi begitu saja, berputar seperti yang bahagia itu belum terjadi sebelumnya.

Seperti petuah orang tua saya diatas bahwa kehidupan akan kembali keatas. Segala daya usaha orang tua berkembang. Kehidupan kembali normal seperti semula. Tapi sudah hukumnya bahwa : segala sesuatu tidak ada yang abadi. Ya, sudah dapat ditebak, semua itu kembali sirna dan kehidupan kembali  ke bawah, mungkin sampai sekarang. Walaupun hal ini relatif.

Tanah Pasundan telah menjadi saksi kehidupan saya. Sebuah tanah yang begitu indah, dengan bentangan pegunungannya, dan iklim yang begitu ramah. Tanah ini kini saya tinggalkan, dalam daya upaya memperbaiki kehidupan. Saya tinggalkan bagi mereka yang berada di tanah pasundan. Bagi mereka yang telah berputus asa, dan menggantungkan perubahan hidup kepada saya.

Tanah rantau bukanlah hal luar biasa bagi suku minang. Tapi saya seorang minang sekaligus seorang sunda. Dua suku yang terpaut dalam diri saya melalui ke dua orang tua saya. Seorang Ibu dan seorang Ayah dengan sikap dan pandangan masing-masing.

Dari keduanya tersampaikanlah berita baik dari tanah kelahiran. Tidak lupa pula berita buruk tersampaikan ke telinga saya dari tanah kelahiran. Buruk memang, sedih memang, derita memang. Tapi adakah hal yang bisa diperbuat seorang saya. Bukanlah penguasa bukanlah saudagar. Saya hanyalah saya. Dan mereka.. bukanlah penguasa bukanlah saudagar.. mereka adalah mereka.

Berita buruk itu sedih memang, dan tentu memusingkan. Tapi kepada siapa saya minta bantuan? Teman ? Ah mereka pun punya masalah, dan mungkin masalah mereka lebih hebat. Orang Tua? Ah mereka pun berharap kepada saya. Saudara? Ah mereka juga punya masalah keluaga yang harus diselesaikan. Tuhan ? ah, benar! Tapi apakah ia akan berwujud ke dunia dan menolong seorang saya dengan tangan sucinya, mungkinkah? Irasional !. Ia Suci, Ia memberi kebebasan kepada kita untuk menentukan nasibnya sendiri, dan Ia akan tetap menjaga kita dengan caranya sendiri. Itu yang saya yakini, bukan begitu? Tentu.

Yang dapat saya lakukan hanyalah. Melihat 18 tahun perjalanan hidup saya ini. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan yakin bahwa kehidupan ini berada di garis yang telah ditentukan. Diantara garis itu ada cabang, dan disanalah kita memilih. Dan saya memilih untuk tetap hidup—entah sampai kapan—di tanah rantau ini, dan berusaha menaikan roda kehidupan saya yang telah turun. Mungkin saya berhasil mungkin tidak. Tapi siapa yang tahu? Tuhan hanya menyuruh kita mencoba.

Entah apa makna dari tulisan ini. Mungkin ini sampah, mungkin juga bermanfaat. Tapi semua hanyalah kemungkinan. Pastinya, saya mengerti sekarang, derita dan kesedihan dari kabar buruk tanah lahir dan kehidupan penuh duka di masa lampau hanyalah bumbu. Bumbu yang nantinya akan menyedapkan kehidupan kedepannya. Semua itu adalah pemicu. Pemicu untuk menjadi manusia bersemangat dalam kehidupan. Semangat dalam memperbaiki kehidupan.

Saya 18 tahun dan saya masih hidup. Saya ingin sampai saatnya nanti saya menjadi cahaya. Bermanfaat bagi semua makhluk tanpa terkecuali. Khayalan memang, dan bahkan irrasional. Tapi inilah impian, seorang anak dalam duka dan derita.

cahaya

Tulisan ini dimuat juga di www.kompasiana.com
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: