Monumen Puputan Niti Mandala

Monumen Puputan

Kebudayaan adalah total dari fikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak berakal kepada nalurinya dan yang hanya dicetuskan oleh manusia sesudah proses belajar, Koentjaraningrat (2006).

Negara kita yang begitu luas dengan beribu pulau dan beribu etnis merupakan hal yang sangat menarik untuk di kaji. Lain pulau, lain geografis, lain suku, lain pula kebudayaannya. Keragaman budaya nusantara yang kini sedang ‘tertatih-tatih’ menghdapi arus globalisasi tampaknya butuh uluran tangan anak bangsa yang sadar akan mulai hilangnya identitas bangsa ini.

Bicara kebudayaan, marilah kita tengok pulau yang sudah tidak asing lagi bagi kita.Ya, pulau itu adalah Pulau Bali. Pulau yang dijuluki Pulau Dewata ini merupakan sumber inspirasi budaya. Kebudayaan masyarakat Bali telah mengakar kuat dalam semua segi kehidupan, pantas saja jika pelancong nusantara maupun internasional tidak pernah bosan untuk mengunjungi pulau ini. Semuanya mengandung unsur budaya bali, arsitekturnya, organisasi sosialnya, pakaiannya, planologinya dan masih banyak lagi unsur-unsur budaya Bali yang selalu menyejukan mata para pelancong.

Kota Denpasar merupakan Ibu Kota dari Provinsi Bali. Di tengah-tengah kota ini kita bisa melihat sebuah monumen yang begitu indah. Indahnya monumen ini seperti sebuah astana ditengah kota. Ukiran lembut penuh makna dapat kita lihat di setiap sudut monumen ini.

Monumen Puputan Niti Mandala namanya. Sebuah simbol perjuangan heroik ketika terjadi perang Puputan di Denpasar antara Pihak Kerajaan Bali(?) dengan Pasukan Ekspidisi Belanda. Semua keluarga kerajaan  meninggal dalam pertempuran tersebut. Menandakan begitu besarnya semangat perjuangan mereka dalam mengahadapi bangsa penjajah.

Monumen ini terdiri dari tiga lantai. Pada lantai pertama ada sebuah kolam ikan yang berisi puluhan ikan koi besar. Disamping kolam ada ruang pameran lukisan sejarah. Sebuah potret pedih perjuangan bangsa kita dalam  mengahadapi Pasukan Ekspedisi Belanda. Potret hitam putih tersebut seolah hidup memberikan petuah kepada pengunjung. “Inilah kami dahulu, wahai anakku, tetes darah kami dan keluarga kami telah tumpah membasahi bumi ini, hanya untuk masa depan kamu, masa depan kamu sebagai anak cucu kami, yang nantinya akan mejayakan negara ini, mensejahterakan rakyatnya, dan ingat anaku, jangan pernah lupakan perjuangan kami

Dilantai kedua kita bisa melihat miniatur sejarah yang terpanjang di etalase kaca. Masing-masing etlase mengisahkan keadaan Pulau Bali mulai dari masa prasejarah sampai mengisi kemerdekaan. Miniatur tersebut begitu indah dan informatif. Di etalase tersebut ada miniatur yang menggambarkan kekejaman tentara Fasis Jepang di pulau Bali, di saat bersamaan ada juga turis Jepang yang melihat-lihat miniatur tersebut. Saya sedari dulu kesal terhadap bangsa Jepang, walau memang guru PKN maupun Agama disekolah mewajibkan kita untuk tidak menyimpan dendam terhadap musuh di masa lalu. Saya tidak dendam hanya kesal. Budaya Jepang telah merasuk ke dalam negara ini. Tidak aneh jika komunitas pecinta budaya jepang yang sebagian besar merupakan anak muda Indonesia semakin hari semakin banyak peminatnya. Saya kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Belum lagi budaya barat yang jelas telah  merasuk dalam kehidupan bangsa ini. Ah, tak perlulah dibahas lebih lanjut. Sedari dulu saya punya impian jika nanti bangsa kita pergi  kemanapun akan menggunakan pakaian adat nusantara yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan memiliki rumah tinggal yang sesuai dengan adat masing-masing. Sehingga kita pumya identitas, punya harga diri, punya budaya, yang perlu ditunjukan kepada mereka, bangsa dunia.

Dilantai paling atas pengunjung dapat melihat kota Denpasar dari 8 penjuru mata angin. Tidak ada gedung pencakar langit sepenglihatan saya. Begitu rapihnya kota ini. Begitu bersahabat dengan alam. Manusia, alam dan langit seolah bersatu membentuk keselarasan. Hal yang jarang kita temukan di kota-kota besar di Pulau Jawa. Kota penuh polusi dan kemacetan.

Dilangit-langit lantai terakhir ini ada hal yang begitu menarik bagi saya. Ada simbol-simbol yang mewakili 8 penjuru mata angin. Simbol apakah ini? mungkin pembaca bisa menjelaskan. Yang saya tahu bahwa budaya kita memang memiliki ribuan simbol yang memiliki filosofi masing-masing.

Yang harus kita ingat adalah bahwa monumen ini hanyalah satu dari ribuan karya anak bangsa. Bangsa yang begitu luhur dan agung tapi ternoda oleh egoisme bangsa penjajah. Oleh karena itu, saya mengajak pembaca, marilah kita angkat budaya kita sebagai pondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa Mulia pasti Berbudaya Mulia. Jayalah Nusantara !

Ferry Fadillah

Denpasar, 17 April 2010

  1. #1 by allwyn aqson on April 17, 2010 - 10:21

    pertamax gan fer! haha

  2. #3 by allwyn aqson on April 17, 2010 - 10:27

    lebih tepatnya hasil karya buyut bangsa kita fer.

    Jayalah Nusantara! Indonesia Unite!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: