Sisi Gelap Paris van Java

Ilustrasi-Karaoke/Admin (shutterstock)

Ilustrasi-Karaoke/Admin (shutterstock)

Hari Jumat, 18 Maret 2010 merupakan hari ke-4 saya di Kota Bandung. Kota yang menjadi saksi bisu kelahiran saya dari seorang Ibu yang begitu gigihnya menahan rasa sakit di dalam perutnya untuk mempertahankan sebuah jiwa, kota yang dengan segala gejala dan pergaulan sosialnya yang telah membentuk sebuah pola pikir yang tertanam di dalam benak saya sampai hari ini, dan kota yang dengan segala kisah di dalamnya telahmenjadikan seorang anak manusia mampu bertahan dan merenungi kehidupan dalam kesendirian di kota perantauannnya.

Selepas Adzan magrib saya dengan seorang kawan, yang juga saat itu baru pulang dari kota perantauan, berangkat menuju pusat kota untuk bersilaturahim dengan kawan-kawan lama. Kawan-kawan yang telah menjadi tempat saling berbagi ketika SMA dulu. Hujan yang mengguyur kota bandung disertai dinginnya suhu saat itu membuat kami berinisiatif untuk membeli mie bakso yang dijual di warung depan. Dengan penuh kemantapan dan atas dasar kesadaran sendiri semua kawan saya mulai mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan membakarnya dengan korek api gas seharga seribuan. Tanpa mempedulikan kontrovesi haramnya rokok, mereka terus membuat kepulan-kepulan asap beracun melambung ke udara, sambil sesekali memakan bakso yang telah mereka pesan. Saya sendiri konsentrasi dengan bakso santapan saya dan mau tidak mau menikmati menjadi seorang perokok pasif.

Diakhir acara menyantap bakso bersama di salah satu sudut kota bandung tersebut, kami melanjutkan acara untuk berbagi cerita yang telah terpendam selama 3 bulan sejak terpisahnya kami ke tanah rantau masing-masing. Ada yang becerita mengenai kehidupannya di kampus, kehidupannya di tanah rantau, misteri, wanita dan seks. Di sela-sela kesibukan menjadi pendengar setia cerita kawan-kawan tersebut, saya meminjamhandphone salah satu kawan saya dan mengeksplorasi file gambar di dalamnya. Ada sesuatu yang mengejutkan bagi saya di sana. Ternyata saya mendapati kawan saya tersebut, bersama 2 orang kerabat kuliahnya berfoto bersama dengan seorang wanita cantik berpakaian sexy di sebuah tempat karaoke di daerah Braga dengan beberapa botol minuman keras di meja.

Tanpa bermaksud mencampuri urusan pribadi kawan saya tersebut, saya memberanikan diri untuk bertanya asal-usul foto tersebut. Setelah melakukan sedikit wawancara, ternyata wanita yang berada di foto tersebut adalah seorang Pekerja Seks Komersial di sebuah tempat karaokean plus plus di kota Bandung. Wanita tersebut berumur sekitar 25 tahun dan kawan-kawan saya barulah berumur 19 tahunan. Sungguh hal yang bertentangan, seharusnya yang lebih tua menjadi contoh bagi yang muda, ini malah menjadi partner bagi keburukan bersama. Kawan saya pun menuturkan bahwa harga yang di keluarkan untuk mendapatkan wanita tersebut bisa di bilang murah yaitu Rp 250.000,00 sudah termasuk fasilitas karokean dan minuman beralkohol. Tapi harga tersebut tidaklah memperkenankan pelanggan untuk menyelup sang PSK tetapi hanya sekedar ciuman, raba-raba dada, peluk-peluk tubuh dan berfoto mesra.

Ada sebuah rasa haru di dalam diri saya ketika mengetahui hal ini. Kabar dari perantauan yang mengatakan bahwa anak-anak Bandung itu pergaulannya bebas bukan hisapan jempol belaka. Di atas adalah salah satu contohnya, belum lagi beberapa (bisa dikatakan banyak) pengakuan kawan saya di SMA dulu yang menyatakan dengan penuh kesadaran bahwa dia telah melakukan hubungan badan, ciuman, memeluk dan hal-hal sejenis dengan pasangannya di kostan, rumah orang tua bahkan di mobil pribadi. Saya tahu bahwa bukan Kota Bandung saja yang seperti ini, masih banyak kota-kota lain di negeri ini yang pemudanya melakukan hal-hal serupa, haya saja Kota Bandung dengan kecantikan pemudi-pemudinya selalu menjadi sorotan media masa dan maniak film bokep di dunia maya maupun nyata.

Menyadari hal ini saya sebagai anak dari ibu bapak saya, dan anak dari Indonesia Yang Mulia ini, berharap kepada semua bapak ibu di tanah indonesia agar menjaga kami, anak-anak anda, secermat-cermatnya tanpa menghilangkan hak-hak kebebasan yang semestinya kami peroleh. Jagalah kami dengan pemahaman ilmu agama yang dalam, jagalah kami dengan suri tauladan dari bapak ibu sekalian, jagalah kami dengan menaruh perhatian terhadap teman-teman sepergaulan kami, jagalah kami dengan mencermati konsumsi informasi yang kami peroleh, dan jagalah kelancaran komunikasi antara ibu dan bapak dengan kami, tanpa menghalangi kebebasan kami dalam bergaul dan mengembangkan minat.

Saya yakin dengan penjagaan yang secermat-cermatnya dari ibu dan bapak maka akan tercetaklah benih-benih unggul yang nantinya akan berkembang menjadi tanaman-tanaman muda indonesia yang siap menyelimuti negeri ini dengan kemuliaan dan kesejahteraan. Semoga Kemuliaan Indonesia akan segera tumbuh di saat krisis seperti ini, maafkan saya ini bila banyak menggunakan kata-kata yang kurang pantas. Akhir pesan saya :

INDONESIA AKAN MULIA JIKA PEMUDANYA MULIA

note : artikel ini pernah dimuat di http://www.kompasiana.com dengan judul Bapak dan Ibu, Baca Ini ! pada tanggal 19 Maret 2010  pukul  09:32 oleh Ferry Fadillah

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: