Penjara, Penjahat dan Manusia

Mungkin semua orang di negara ini telah kenal yang namanya penjara. Sebuah ruangan lembab berjeruji besi berisikan beberapa orang yang benar-benar jahat dan dituduh jahat serta dikelola oleh pemerintah dan dinamakan Lembaga Pemasyarakatan. Dari istilah pemasyarakatan jelaslah disini penjara sebagai tempat pendidikan bagi mereka yang khilaf maupun sengaja melakukan tindak pidana. Tapi apakah benar-benar pendidikan yang terjadi di dalam penjara?

Tidak perlulah saya sengaja melakukan suatu tindak kejahatan lalu dijerumuskan ke dalam penjara untuk menjawab pertanyaan di atas. Bagi mereka yang punya riwayat masuk penjara berapapun lamanya pasti tahu jawaban ini, dan bisa dijadikan sumber informasi yang –-untuk sementara—dapat kita percaya.

Kehidupan penjara tidaklah seringan yang anak-anak kira, “mah enak yah dipenjara, gak usah ngapa-ngapain, dapet makanan gratis lagi.” Menurut penuturan kawan dari sahabat saya—seorang anggota genk motor yang pernah masuk penjara karena terlibat pidana pembunuhan—penjara merupakan tempat uji nyali, kesiapan finansial, fisik, dan psikis sangat di butuhkan di dalamnya. Tiap-tiap penjara memiliki seorang tahanan yang dijadikan RT, ia memiliki kuasa penuh dalam menjamin kesalamatan anggota tahanan lain. Setiap RT biasanya meminta iuran rutin kepada tahan lain dengan jumlah yang beragam, mulai dari puluhan ribu sampai puluhan juta. Ini benar-benar terjadi dan siapapun yang melawan karena tidak mau membayar pasti berujung dengan tindak kekerasan ( mis: pemukulan). Seorang RT bukan berarti pintar dalam mengelola, tapi yang paling kuat dan ditakuti di antara tahanan lain.

Manusiawikah hal ini? mereka yang di dalam penjara harus membayar sekian rupiah kepada RT setempat. Jika menolak akan mendapatkan tindakan kekerasan dari para jawara bahkan perbuatan asusila bisa saja terjadi bagi mereka yang dibawah umur dan remaja. Mereka yang mendekam dalam penjara dengan masa tahanan yang sangat lama pasti sangat tertekan jiwanya, tidak aneh jika ada saja tahanan yang bunuh diri maupun kabur dari penjara.

penjara/detiknews.com

penjara/detiknews.com

Itulah sekelumit kisah dari penjara, anda boleh percaya atau tidak karena penuturan sumber informasi mungkin benar mungkin juga salah. Yang semestinya kita ketahui adalah mereka yang di dalam penjara adalah manusia seperti kita yang tidak luput dari dosa dan mendekam di dalam jeruji besi yang penuh tekanan. Mereka ada yang benar-benar melakukan kejahatan dan ada juga yang dituduh melakukan kejahatan.

Setiap kejahatan yang dilakukan seseorang kerap kali memunculkan amarah yang berlebihan. Padahal kejahatan mereka mungkin juga kejahatan kita. Saat kita memukuli seorang pencuri ayam, apakah kita pernah memperhatikan kondisi ekonominya sehingga ia lapar dan mencuri ayam. Saat kita memaki dan menyumpah seorang koruptor, apakah kita pernah tahu dia telah melakukan hal itu atau memang dia dituduh. Kita selalu saja merasa lebih suci dari mereka, padahal mereka adalah orang-orang yang lupa (khilaf) dan butuh uluran tangan kita dalam hal mengingatkan, mendidik, maupun ekonomi.

Denpasar, 11 April 2010

Ferry Fadillah

notes : tulisan ini menjadi headline di www.kompasiana.com tgl 11 April 2010
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: