Korupsi? Jangan Saling Tunjuk

Nama Gayus Tambunan tentu sudah tidak asing di telinga kita. Nama dan kisahnya telah beredar luas di udara melalui pemancar radio, di kertas koran melalui media masa, dan di layar komputer melalui pemberitaaan online. Pegawai Direktorat Jenderal Pajak ini termasuk salah satu mafia perpajakan yang melakukan tindak pidana korupsi sebesar 25 miliyar. Tentunya ini merupakan jumlah uang yang begitu besar dan prestasi terbaik bagi pegawai golongan IIIA.

Kisah seorang Gayus tentulah sangat berdampak bagi nama baik instansi tempat dimana ia bekerja. Pandangan sinis dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Direktorat Jenderal Pajak telah menjalar dimana-mana. Bahkan ada gerakan untuk memboikot pembayaran pajak di media sosial facebook yang anggotanya cepat sekali bertambah dari hari ke hari. Tentu apabila pemboikotan ini benar-benar terjadi hanya akan menambah permasalahan di negeri ini, mengingat pajak merupakan sumber keuangan vital bagi pembiayaan keperluan pemerintah dan rakyat.

Bukan Direktorat Jenderal Pajak saja sebenarnya yang ikut malu akibat kasus Gayus ini. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara sebagai almamater Gayus Tambunan beberapa tahun yang lalu pun ikut menjadi cibiran masyarakat. Kini ada sebagian masyarakat yang mengidentikan STAN sebagai sekolah calon koruptor. Tentu bukan hal yang bijak jika kesalahan seseorang digeneralisasikan terhadap semua hal yang terkait dengan kesalahan tersebut.

Saya sebagai mahasiswa sekolah tinggi kedinasan dibawah naungan Kementrian Keuangan sering mendengar cibiran dari masyarakat. Walaupun spesalisasi tempat saya belajar bukanlah perpajakan, tapi kasus pajak gayus turut mencemari spesialisasi yang saya jalani. Didalam perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu yang lalu, seorang bapak yang bekerja sebagai PNS di Kepulauan Riau mencandai saya dengan pernyataan bahwa tempat saya bekerja nanti merupakan lahan ‘basah’, dan tentu banyak ‘uang basahnya’. Ditambah lagi pernyataan seorang ibu yang biasa shalat di mushala kampus saya, “koyoe percuma ya mas. Rajin shalatne tapi nanti kerjane koyo gitu lah.” Entah apa maksud dari ucapan ibu tadi, yang jelas pernyataan tersebut telah menyinggung perasaan beberapa teman saya.

Jika kita bicara korupsi maka ada 3 aktor utama yang biasanya bermain : pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Ke-3 nya saling melengkapi dalam memulai kisah korupsi. Seorang pejabat pemerintah tentu akan goyah imannya jika masih ada masyarakat dan pengusaha yang selalu memberikan ‘uang pelicin’ untuk mendapatkan kemudahan. Begitu pula sebaliknya, masyarakat dan pengusaha tentu akan selalu memberi ‘uang pelicin’ jika ternyata ada pejabat pemerintah yang memang mau menerimanya dengan tangan terbuka. Kita ambilah contoh kasus pembuatan SIM yang tentu semua orang sudah tahu ‘jalan pintas untuk mendapatkan SIM dalam waktu singkat’. Jika memang masyarakat mau negeri ini bersih kenapa yah malah mengajak kerabatnya untuk memiliki ‘SIM singkat’ tersebut, seharusnyakan melaporkan ke pihak yang berwenang. Apa masyarakat juga takut jika terlibat ?, sebab pemberi dan penerima ‘uang pelicin’ tentu memiliki kesalahan yang sama di dalam hukum.

Disini saya bukannya memihak kepada pemerintah, dan tidak pula saya memihak kepada mereka yang kerap kali menyalahkan pemerintah. Saya ingin tahu apakah jadinya mereka yang berkoar dengan semangat di muka umum dengan slogan BERSIHKAN KORUPSI DI NEGERI INI dijamin bakal bebas korupsi jika bekerja di dalam pemerintahan. Apakah para akivis pemberantas korupsi akan menghindari korupsi jika mereka memungkinkan melakukan hal tersebut. Benarlah salah satu lyric lagu Ebit G Ade : tengoklah ke dalam sebelum bicara. Tampaknya bangsa ini lebih suka beretorika dengan kata-kata dibanding menyegerakan tindakan yang semestinya. Korupsi hanya akan terselesaikan jika 3 aktor utama : pemerintah, dunia usaha dan masyarakat menggunakan hati nuraninya dalam menjalankan kehidupan ini. Jika salah satu aktor tidak dapat bekerja sama dalam pembersihan korupsi, jangan harap negeri ini akan bersih.

notes : tulisan ini pernah ditulis oleh Ferry Fadillah di http://www.kompasiana.com dengan judul yang sama

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: